Uncategorized

Belajar Tenang Tanpa Kehilangan Suara

Dalam hidup, kita terpikat pada kecepatan—ingin segera berhasil, ingin segera membaik, ingin segera tenang. Namun tergesa-gesa justru membuat kita tersandung pada hal-hal yang semestinya kita pahami lebih dulu. Ketika kita berjalan terlalu cepat, kita melewatkan proses yang membentuk kita menjadi lebih kuat.

Begitu juga dengan perjalanan menjadi perempuan yang tenang. Banyak orang menganggap ketenangan sebagai sesuatu yang seharusnya sudah melekat pada diri perempuan—seolah kita harus selalu kalem, selalu lembut, tidak pernah mengeluh, dan selalu bisa tersenyum bahkan saat hati sedang retak. Narasi ini sering kali menempatkan ketenangan sebagai beban, bukan pertumbuhan.

Padahal ketenangan sejati tidak muncul hanya karena seseorang menginginkannya. Ia tumbuh dari pengalaman, dari jatuh bangun, dari rasa takut hingga keberanian untuk bangkit. Perempuan menjadi tenang bukan karena tidak punya emosi, melainkan karena ia belajar mengenal emosinya dan tahu kapan harus berdiam, kapan harus bicara, dan kapan harus menjauh dari sesuatu yang tidak baik bagi dirinya.

Namun, sering kali laki-laki berharap perempuan selalu tenang tanpa memahami peran mereka dalam menciptakan suasana itu. Banyak laki-laki memilih perempuan yang tenang, tetapi lupa bahwa ketenangan sering lahir dari cara mereka memperlakukan perempuan tersebut. Ketika perempuan terus berjalan di atas tanah yang rapuh dan penuh ketidakpastian, ketenangan menjadi sesuatu yang sulit dijaga.

Ketenangan akan lebih mudah hadir ketika perempuan dikelilingi perlakuan yang menguatkan: didengar tanpa direndahkan, diperlakukan dengan hormat, dan disayangi tanpa syarat tersembunyi. Hubungan yang hangat dan aman memberikan ruang bagi perempuan untuk menurunkan bahunya, berhenti waspada, dan merasakan nyaman menjadi diri sendiri. Ketenangan tidak pernah menjadi tugas sepihak—itulah hasil dari hubungan yang penuh saling menjaga.

Karena ketenangan sejati tumbuh dari kata saling. Saling memahami, saling menghargai, dan saling bertanggung jawab atas keadaan emosional satu sama lain. Tidak ada hubungan sehat jika yang satu selalu diminta berlapang dada sementara yang lain merasa tidak perlu berubah. Untuk menciptakan ketenangan, kedua pihak harus bersedia tumbuh bersama.

Menjadi perempuan yang tenang bukan berarti tidak marah atau tidak sedih. Bukan berarti memendam luka dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Menjadi perempuan yang tenang berarti mampu mengungkapkan perasaan dengan jujur tanpa takut dicap berlebihan. Ia tahu batasannya, ia mengenal apa yang membuatnya ragu, dan ia berani menetapkan jarak dari hal-hal yang tidak baik bagi jiwanya.

Dan di sinilah pelan-pelan menjadi kunci. Perjalanan menuju ketenangan tidak dapat dipaksakan. Ia adalah proses membangun kembali kepercayaan pada diri sendiri, pada orang lain, dan pada kehidupan. Setiap langkah kecil adalah kemajuan. Dengan berjalan pelan, perempuan belajar mendengarkan suaranya sendiri, menghargai prosesnya, dan menyadari bahwa ketenangan bukan tuntutan orang lain—melainkan hadiah untuk diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *