Uncategorized

Nikah Muda Bukan Pencapaian: Memahami Realitas di Balik Tren

Belakangan ini dunia maya dipenuhi kisah remaja yang menikah di usia 19 tahun dan dengan bangga mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Pernikahan muda seolah kembali dipromosikan sebagai sesuatu yang keren, berani, patut ditiru, bahkan dianggap sebagai jalan pintas menuju kebahagiaan. Mudah untuk terpengaruh—algoritma menyukai cerita manis: momen ijab kabul, rumah kecil sederhana, dan caption “kita berjuang bersama dari nol.” Namun di balik narasi manis ini, ada realitas yang lebih besar dan lebih kompleks dari sekadar video berdurasi 30 detik: pernikahan muda bukan pencapaian, dan tidak seharusnya diperlakukan seolah demikian.

Secara hukum, menikah di usia 19 tahun memang diperbolehkan. Tapi legalitas bukanlah ukurannya. Riset di berbagai negara menunjukkan bahwa kesiapan menikah tidak ditentukan oleh angka usia, melainkan oleh kematangan mental, stabilitas emosi, kondisi ekonomi, dan kemampuan mengambil keputusan jangka panjang. Psikolog menyebut bahwa otak manusia—terutama bagian prefrontal cortex yang mengatur pertimbangan, pengelolaan risiko, dan kontrol emosi—baru sepenuhnya matang sekitar usia 25 tahun. Itu sebabnya banyak orang di usia belasan dan awal 20-an masih belajar mengenali diri sendiri—belum lagi mengelola rumah, pasangan, dan keluarga baru.

Selain soal kematangan pribadi, data global menunjukkan bahwa pernikahan muda sering kali datang dengan konsekuensi berat. Penelitian menemukan bahwa perempuan yang menikah muda lebih berisiko berhenti sekolah, kehilangan kesempatan membangun karier, dan menghadapi ketidakstabilan ekonomi dalam jangka panjang. Dampak kesehatan pun tidak bisa diabaikan: kehamilan terlalu muda meningkatkan risiko komplikasi, masalah kesehatan ibu, hingga hambatan perkembangan anak. Di tingkat hubungan, angka perceraian pada pasangan yang menikah sangat muda cenderung lebih tinggi, bukan karena cinta kurang, tetapi karena hidup masih berubah terlalu cepat untuk diikat permanen.

Yang sering terlupakan dalam diskusi tentang nikah muda adalah privilege. Orang yang merasa siap menikah di usia muda mungkin memiliki dukungan—keluarga yang stabil, finansial yang cukup, atau lingkar sosial yang memudahkan transisi ke kehidupan dewasa. Tetapi tidak semua orang punya landasan yang sama. Ketika seseorang membagikan kisah indah nikah muda sebagai inspirasi, ada risiko narasi itu berubah menjadi tekanan sosial bagi remaja lain yang kehidupannya jauh berbeda. Padahal mengambil waktu untuk membangun diri bukan sesuatu yang harus disesali, apalagi dibandingkan.

Karena itu kita perlu berhenti memperlakukan pernikahan muda seperti sebuah trofi. Pernikahan adalah pilihan pribadi, bukan lomba siapa paling cepat sampai altar. Tidak ada medali untuk menikah lebih awal, sama seperti tidak ada kekalahan untuk mereka yang menikah lebih lambat—atau memilih tidak menikah sama sekali. Yang layak dianggap pencapaian bukan tanggal akadnya, tetapi perjalanan hidup yang kita bangun dengan sadar: mengenali diri, mengejar pendidikan, belajar mandiri, menemukan nilai yang ingin kita bawa, dan memastikan bahwa ketika kita akhirnya memilih pasangan hidup, itu karena kita siap—bukan karena terburu-buru.

Pernikahan terbaik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling matang.
Dan kedewasaan tidak bisa diperintah algoritma atau ikut tren.
Ia membutuhkan waktu, pengalaman, dan ruang untuk bertumbuh—pelan-pelan dan penuh kesadaran.


Sumber & Referensi (Dengan Hyperlink)

📌 Berita & Tren Sosial

📌 Riset & Data Internasional

📌 Kesehatan & Psikologi

📌 Jurnal & Studi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *