Sabar & Ikhlas Itu…

Apakah kita sudah benar-benar ikhlas? Dan apa sebenarnya ikhlas itu? Sungguh pembahasan yang sangat berat. Bahkan saat aku menulis ini, saat ini, aku merasa cemas. Bukan apa-apa. Hanya saja ada kekhawatiran yang muncul saat ingin membahasnya. Tapi menariknya, aku ingin membahasnya. Dari informasi yang telah aku baca.
Kata ikhlas memang sudah tidak asing lagi untuk diucapkan. Namun, memang benar, ikhlas adalah kata yang tidak semudah itu untuk dilakukan, hanya mudah untuk diucapkan. Meskipun sudah kita dengar beberapa kali, entah itu dari mulut kita sendiri atau orang lain, tapi tak ada satu pun orang yang bisa menilainya, termasuk diri sendiri. Aku tidak ingin membahasnya dari segi keilmuan. Aku masih jauh dari kata itu. Sekarang, aku hanya berusaha menuangkan apa yang sudah aku dapatkan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang pernah aku baca. Tulisan ini aku sengaja bagikan sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Dalam sebuah jurnal yang membahas tentang otak manusia, bahwa otak kita lebih cepat merespon emosi negatif. Ketika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, menyakitkan kita mungkin akan lebih cepat untuk bereaksi negatif. Apalagi untuk menerima dengan ikhlas. Sulit. Ternyata, dalam otak kita ada yang dinamakan amygdala. Ini adalah pusat emosi di sistem limbik otak. Pada sistem ini, sangat cepat untuk merespon rasa sakit kekecewaan, atau kehilangan.
Selain ada sistem limbik, otak kita juga terdapat bagian yang namanya prefrontal cortex (logika). Pada bagian ini berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol diri dan rasionalisasi. Namun, ketika stress menyerang, hormon kortisol meningkat yang menyebabkan melemahnya fungsi prefrontal cortex. Sehingga otak lebih mudah dikuasai oleh amygdala. Lalu bagaimana agar prefrontal cortex diaktifkan?
Sistem limbik dan prefrontal cortex mengalami tarik ulur. Ibaratnya antara perasaan dan logika saling melawan. Dan saat stress dan kita memilih untuk sabar, artinya sabar inilah yang sedang melawan dorongan sistem limbik. Sabar bisa diartikan juga sebagai menahan impuls untuk segera meluapkan emosi atau mengambil tindakan gegabah. Saat kondisi negatif, sistem limbik sangat aktif, sedangkan prefrontal cortex sedang membutuhkan energi ekstra untuk menekan reaksi spontan. Dan inilah yang menjadikan sabar terasa berat.
Memang. Tidak bisa dinafikkan sabar dan ikhlas itu terasa berat. Dari hal ini kita tahu, bahwa sabar dan ikhlas itu bukan hal instan yang kita dapatkan. Melainkan dari suatu proses latihan yang terus menerus. Mungkin awalnya kita berat untuk menerimanya, namun penerimaan itulah sebenarnya pintu menuju sabar dan ikhlas. Ya, menerima keadaan. Lalu, kita berusaha untuk menahan diri dari respon yang berlebihan dan terus berpikir berprasangka baik atas apa yang sudah terjadi.
Mungkin kita hari ini belum sepenuhnya ikhlas, tapi setidaknya kita sudah mulai untuk berusaha melakukannya. Karena perjalanan paling panjang adalah perjalanan menuju ikhlas.
Bahkan setiap hari kita sedang melawan gejolak pada diri sendiri. Kadang bisa terlewati, atau kadang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan. Sulit. Tapi sedang diusahakan. Dan pada akhirnya, kita sedang berusaha menjadi pribadi yang tenang.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ ۖ ٢٧
ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ۚ ٢٨
“Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”
(Al Fajr 27-28)
Referensi:
Instagram @adamprabata
1. Ellard, Kristen K., et al. “Neural correlates of emotion acceptance vs worry or suppression in generalized anxiety disorder.” Social cognitive and affective neuroscience 12.6 (2017): 1009-1021.
2. Messina, Irene, Alessandro Grecucci, and Roberto Viviani.
“Neurobiological models of emotion regulation: A meta-analysis of neuroimaging studies of acceptance as an emotion regulation strategy.” Social cognitive and affective neuroscience 16.3 (2021): 257-267.


